Pontianak Kalbar II investigasi.in.
Jawa Timur – Nama Seger Sutrisno mungkin tidak setenar beberapabintang nasional lain menurut Bambang Solikhin, namun bagi pecinta sepak bola Jawa Timur—khususnya Persebaya Surabaya—ia adalah simbol kerja keras, loyalitas, dan dedikasi tanpa batas,”jelasnya.
Awal Kehidupan Dari Penjual, hingga ke Stadion Mimpi Besar. Seger Sutrisno lahir dan tumbuh di kawasan Karanggayam, Surabaya.
Sejak kecil, hidupnya sudah dekat dengan sepak bola, namun bukan sebagai pemain—melainkan sebagai penjual makanan dan minuman di sekitar Stadion Gelora 10 November.
Ia pernah mengisahkan bagaimana dirinya berjualan makanan dan minuman di stadion, lalu duduk kelelahan sambil menonton pertandingan.
Dalam benak hati kecilnya, ia menyimpan mimpi sederhana. Suatu hari ia akan bisa mengenakan seragam Persebaya. Bahkan, demi menyaksikan idolanya bermain, ia rela memanjat pagar stadion atau bersembunyi di selokan agar bisa masuk tanpa tiket.
Perjuangan Awal Kariernya meniti dari bawah. Perjalanan menuju mimpi tidak mudah. Seger memulai karier sepak bolanya melalui klub internal Persebaya,Indonesia Muda (IM), pada era 1980-an.
Di masa awal, kesempatan bermain sangat terbatas. Ia harus bersaing keras untuk menembus tim utama. Namun kegigihan dan kedisiplinannya membuat ia perlahan mendapat tempat di skuad senior sekitar musim 1986/1987, puncak Karier Juara Perserikatan 1987/1988.
Kemudian momen paling bersejarah dalam kariernya, saat ia menjadi bagian dari skuad Persebaya yang menjuarai kompetisi Perserikatan musim 1987/1988, juga dalam laga final yang dramatis, Persebaya berhasil mengalahkan Persija Jakarta dengan skor 3-2.
Gelar ini bukan hanya prestasi pribadi, tetapi juga menjadi tonggak penting dalam sejarah klub. Seger tercatat sebagai bagian dari generasi emas Persebaya era 1980-an yang hingga kini dikenang sebagai legenda.
Karier Klub Indonesia Muda dan Pensiun PDAM. Seger dikenal sebagai gelandang serang yang setia membela Persebaya hingga tahun 1996. Setelah itu, ia sempat bermain untuk klub Assyabaab Salim Group Surabaya (ASGS) pada musim 1996/1997, sebelum akhirnya memutuskan pensiun sebagai pemain.
Menariknya, di masa bermainnya, ia juga mendapatkan pekerjaan tetap sebagai karyawan PDAM Surabaya—sebuah hal yang umum terjadi pada era Perserikatan, di mana pemain juga memiliki pekerjaan di luar sepak bola.
Babak Baru Menjadi Pelatih dan Pembina Generasi Muda. Setelah pensiun, Seger sempat menjauh dari dunia sepak bola. Namun kecintaannya pada olahraga ini membawanya kembali ke lapangan, kali ini sebagai pelatih.
Ia aktif melatih berbagai kelompok usia, terutama di lingkungan internal Persebaya. Puncak kiprahnya sebagai pelatih terjadi ketika ia membawa tim junior Persebaya.
Bawa juara Kompetisi Internal (Indonesia Muda) tahun 2017, Juara Piala Soeratin U-17 tahun 2019. Keberhasilan ini menjadi bukti, bahwa dedikasinya tidak hanya berhenti sebagai pemain, tetapi juga berlanjut dalam membina generasi muda.
Gaya Melatih dan Filosofi Hidup. Seger dikenal sebagai pelatih yang humanis dan dekat dengan pemain. Ia menanamkan nilai kebahagiaan dalam bermain, bukan sekadar tekanan untuk menang.
Baginya, sepak bola bukan hanya soal teknik dan taktik, tetapi juga soal mental, kebersamaan, dan semangat. Ia bahkan sering memotivasi pemain dengan pendekatan personal agar mereka bermain tanpa beban.
Warisan dan Status Legenda. Seger Sutrisno dikenang sebagai bagian dari generasi emas Persebaya 1980-an. Simbol loyalitas terhadap klub, Inspirasi bagi pemain muda dari latar belakang sederhana.
Pelatih yang sukses mencetak talenta muda. Ia juga kerap dilibatkan dalam kegiatan nostalgia dan edukasi sejarah klub sebagai salah satu “legenda hidup” Persebaya.
Kisah Seger Sutrisno adalah potret nyata bahwa sepak bola bukan hanya milik mereka yang berbakat, tetapi juga milik mereka yang gigih.
(Tim investigasi Bambang Solikhin)

