PONTIANAK – Gangguan distribusi air bersih yang terjadi selama tiga hari di Gang Teluk Betung Maju dalam , Kelurahan Siantan Hilir, Kecamatan Pontianak Utara, ( Warga terdampak kecamatan Pontianak Utara),memicu keluhan keras dari warga terhadap PDAM Tirta Khatulistiwa. Warga menilai perusahaan daerah tersebut lamban menangani gangguan dan tidak memberikan solusi nyata bagi pelanggan yang terdampak.Minggu,(26/4)
Sejak pasokan air terhenti, warga harus berjuang memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari seperti mandi, mencuci, dan memasak. Sebagian warga bahkan terpaksa membeli air bersih di toko atau supermarket dengan biaya tambahan yang tidak sedikit.
Ironisnya, di tengah kesulitan yang dialami pelanggan, PDAM belum mampu memberikan kepastian kapan layanan kembali normal, meski gangguan telah berlangsung berhari-hari.
Seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan bahwa masyarakat sangat dirugikan karena air bersih merupakan kebutuhan vital yang tidak bisa ditunda.
“Sudah tiga hari air mati. Semua aktivitas terganggu. Kami terpaksa beli air untuk kebutuhan sehari-hari. Kalau seperti ini terus, pelanggan jelas dirugikan,” ujarnya.
Berdasarkan informasi yang diterima warga, pihak PDAM menyebut gangguan terjadi karena Instalasi Pengolahan Air (IPA) Selat Panjang mengalami kendala pada jaringan kelistrikan. Namun alasan tersebut tidak serta-merta meredakan kekecewaan warga.
Bagi pelanggan, persoalan utama bukan sekadar kerusakan teknis, tetapi ketidaksiapan PDAM dalam mengantisipasi gangguan dan lambannya penanganan terhadap kebutuhan pelanggan.
“Kalau ada gangguan teknis, itu bisa dimaklumi. Tapi kenapa sampai tiga hari belum selesai? Dan kenapa tidak ada solusi air bersih sementara untuk warga? Ini yang kami pertanyakan,” kata warga lainnya.
Situasi ini memunculkan pertanyaan serius mengenai kesiapan infrastruktur dan manajemen pelayanan PDAM Tirta Khatulistiwa, terutama dalam menghadapi gangguan pada fasilitas vital seperti instalasi pengolahan air.
Sebagai perusahaan yang mengelola layanan dasar masyarakat, PDAM semestinya memiliki sistem tanggap darurat untuk memastikan pelanggan tetap mendapatkan akses air bersih saat terjadi kerusakan.
Namun yang terjadi di lapangan justru sebaliknya. Warga mengaku hanya menerima informasi singkat soal gangguan listrik, tanpa kejelasan durasi perbaikan maupun langkah darurat yang disiapkan.
“Kami hanya diberi tahu ada gangguan listrik, tapi kapan selesai tidak ada kepastian. Seharusnya PDAM punya langkah darurat, misalnya suplai air dengan mobil tangki. Jangan warga dibiarkan cari solusi sendiri,” tegas warga.
Kondisi ini dinilai memperlihatkan lemahnya tanggung jawab pelayanan terhadap pelanggan. Warga pun mempertanyakan komitmen PDAM dalam memberikan pelayanan prima, sebab di satu sisi pelanggan diwajibkan membayar tagihan tepat waktu, tetapi di sisi lain hak pelanggan untuk mendapatkan air bersih justru terabaikan.
“Kalau pelanggan telat bayar, ada sanksi. Tapi kalau PDAM gagal menyalurkan air berhari-hari, apa bentuk tanggung jawabnya? Jangan sampai pelayanan publik berjalan tanpa akuntabilitas,” ujar seorang warga.
Keluhan warga Gang Teluk Betung dalam menjadi alarm bagi PDAM Tirta Khatulistiwa untuk segera berbenah. Transparansi informasi, percepatan penanganan gangguan, serta penyediaan solusi darurat harus menjadi prioritas agar masyarakat tidak terus menjadi pihak yang dirugikan.
Jika persoalan pelayanan dasar seperti air bersih tidak ditangani serius, maka kepercayaan publik terhadap PDAM Tirta Khatulistiwa akan terus merosot, dan masyarakatlah yang harus menanggung akibat dari lemahnya pelayanan tersebut.(Meldianto)
