Top 5 This Week

Related Posts

Desa Gringsing Menyimpan Dendam: Teror “Bisikan” Tak Sekadar Menakut-nakuti

JAKARTA, — Investigasi .In – Ada teror yang datang lewat suara, ada pula yang lahir dari rahasia yang sengaja dikubur. Film horor “Bisikan Desa Gringsing” memilih jalur kedua: menjadikan masa lalu, kehilangan dan dendam sebagai sumber ketakutan yang perlahan menghimpit para tokohnya.

Cerita berpusat pada Hesti yang diperankan Aghniny Haque. Berawal dari kegelisahan mencari ayahnya, Darmono, yang menghilang selama lebih dari sepekan, Hesti justru masuk ke sebuah desa terpencil yang menyimpan banyak kejanggalan.

Kedatangannya di Desa Gringsing membuka rangkaian misteri. Warga desa seperti menyimpan sesuatu, sementara jejak keberadaan sang ayah justru membawa Hesti semakin dekat dengan kisah kelam yang berkaitan dengan Fatimah, diperankan Fatmah Nahdi.

Hesti bukan hanya berhadapan dengan ketakutan, tetapi juga harus menyusun kepingan informasi dari orang-orang yang berada di sekitar desa. Kehadiran Gagan, Melati, Sukri dan Rudi turut menjadi bagian dari rangkaian cerita yang perlahan mengungkap apa yang sebenarnya terjadi.

Bukan Sekadar Mengandalkan Jumpscare

“Bisikan Desa Gringsing” tidak menjadikan kemunculan makhluk menyeramkan sebagai satu-satunya senjata. Ketegangan dibangun melalui suasana, misteri dan konflik masa lalu yang terus menghantui kehidupan masyarakat desa.

Pertanyaan tentang hilangnya Darmono kemudian berkembang menjadi teka-teki yang jauh lebih besar: apakah Hesti benar-benar datang untuk menemukan ayahnya, atau justru tanpa sadar memasuki bagian dari sebuah rahasia yang selama ini ditutup rapat?

Pendekatan tersebut membuat unsur horor dalam film tidak berdiri sendiri. Misteri dan drama menjadi bagian penting dalam perjalanan cerita hingga perlahan mengarahkan penonton pada akar persoalan Desa Gringsing.

Dunia Horor Dibangun dengan Teknologi Virtual Production

Dari sisi produksi, film ini juga mengandalkan teknologi Virtual Production (VP) melalui penggunaan LED volumetric stage.

Teknologi tersebut memungkinkan lingkungan digital ditampilkan secara real-time ketika adegan berlangsung, Dengan pendekatan itu, pemain dapat berinteraksi langsung dengan latar visual yang menjadi bagian dari dunia cerita.

Bagi para pemain, metode tersebut menghadirkan tantangan berbeda karena ekspresi dan respons emosional harus tetap meyakinkan ketika berhadapan dengan lingkungan yang dibangun melalui teknologi visual.

Film berdurasi 108 menit ini mendapat klasifikasi D17 dari Lembaga Sensor Film. Pengembangan ceritanya disebut berlangsung sekitar tiga tahun, dengan proses produksi melibatkan kolaborasi Indonesia, Malaysia dan Singapura.

Deretan pemain yang terlibat di antaranya Aghniny Haque, Fatmah Nahdi, Surya Saputra, Kiki Narendra, Hesti Putri, Iyang Darmawan, Khiva Iskak, Barra Swetajaloe, Mian Tiara, Nina Tamam, Akun Gege, Shaqueena Medina Lukman, Nizar Umar, Azkya Mahira dan Nazhira Rizka.

Film produksi Legacy Pictures, Mandela Pictures dan Oceanus Media Global (OMG Studios) tersebut sebelumnya menggelar press conference dan gala premiere di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (18/9/2026).

“Bisikan Desa Gringsing” dijadwalkan hadir serentak di bioskop Indonesia mulai 24 September 2026.

Pada akhirnya, Desa Gringsing bukan hanya menjadi tempat berlangsungnya teror, Desa itu menjadi ruang tempat masa lalu, kehilangan dan dendam saling bertemu—hingga sebuah rahasia yang lama disembunyikan kembali mencari jalan untuk muncul ke permukaan.

Popular Articles