INVESTIGASI.IN | BANYUWANGI –
Piala Ketua PSSI Banyuwangi yang seharusnya menjadi ajang sportivitas dan hiburan masyarakat justru berubah menjadi sorotan tajam publik. Kericuhan yang melibatkan pihak tim dan panitia memunculkan pertanyaan serius soal profesionalisme penyelenggara turnamen sepak bola tersebut.
Kemarahan memuncak setelah pentolan Desi Banteng FC melayangkan tuntutan keras kepada panitia usai terjadi insiden yang dinilai merugikan tim mereka dalam pertandingan. Situasi itu bahkan menjadi perhatian luas setelah ramai diberitakan media nasional.
Publik kini mempertanyakan kualitas kepemimpinan dan integritas penyelenggara kompetisi yang membawa nama besar PSSI Banyuwangi. Banyak pihak menilai turnamen sekelas ini seharusnya mampu menjunjung tinggi fair play, bukan malah menimbulkan kegaduhan yang mencederai dunia olahraga daerah.
“Kalau pertandingan sudah memicu kericuhan dan protes keras dari peserta, berarti ada yang tidak beres dalam pengelolaannya,” ujar salah satu penonton yang hadir di lokasi.
Sorotan tajam mengarah pada panitia pelaksana yang dianggap gagal menjaga kondusivitas pertandingan. Mulai dari keputusan wasit, pengamanan, hingga transparansi aturan pertandingan kini dipertanyakan publik. Tidak sedikit yang menduga adanya ketidaksiapan panitia dalam mengantisipasi tensi tinggi di lapangan.
Lebih ironis lagi, turnamen yang seharusnya menjadi wadah pembinaan pemain muda Banyuwangi malah berpotensi menciptakan konflik antarsuporter dan tim akibat lemahnya pengendalian pertandingan.
Gelombang kritik juga muncul di media sosial. Banyak masyarakat meminta agar PSSI Banyuwangi tidak tutup mata terhadap polemik ini. Mereka mendesak adanya evaluasi total terhadap panitia pelaksana agar kejadian serupa tidak terus berulang dalam setiap kompetisi daerah.
Jika dibiarkan tanpa penjelasan terbuka, polemik ini dikhawatirkan akan menurunkan kepercayaan klub-klub lokal terhadap independensi dan profesionalisme penyelenggara turnamen sepak bola di Banyuwangi.
Kini publik menunggu sikap tegas dari pihak penyelenggara maupun PSSI Banyuwangi. Apakah kericuhan ini akan dianggap angin lalu, atau justru menjadi momentum untuk membersihkan dunia sepak bola daerah dari dugaan ketidakprofesionalan dan pengelolaan yang amburadul?

