
PALI, INVESTIGASI.IN – Gelombang kenaikan harga kebutuhan pokok kembali menghantam masyarakat di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). Berdasarkan pantauan langsung di Pasar Inpres Pendopo, Kecamatan Talang Ubi, harga daging ayam ras atau ayam potong mengalami lonjakan drastis dan saat ini tertahan di kisaran Rp40.000 hingga Rp45.000 per kilogram.
Kenaikan yang signifikan ini memicu keluhan berat dari masyarakat, khususnya para ibu rumah tangga dan pelaku usaha kuliner mikro yang bergantung pada komoditas daging ayam. Padahal dalam kondisi normal, harga daging ayam di wilayah ini biasanya hanya berkisar antara Rp26.000 hingga Rp28.000 per kilogram.
Jeritan Konsumen dan Penurunan Daya Beli
Salah seorang pembeli di Pasar Inpres Pendopo mengeluhkan lambatnya pergerakan harga untuk kembali normal. Tingginya harga memaksa para ibu rumah tangga memotong volume belanjaan mereka demi menjaga keseimbangan dapur.
“Sangat berat bagi kami. Uang belanja tidak naik, tapi harga ayam sudah tembus Rp.40.000-Rp45.000 per kilo. Terpaksa porsi konsumsi dikurangi atau beralih ke lauk lain yang lebih murah,” ujar salah seorang warga saat ditemui di lokasi pasar.
Pedagang Mengeluh Omzet Anjlok 50%
Dampak meroketnya harga komoditas ini tidak hanya memukul sisi konsumen, melainkan juga memicu kelesuan di tingkat pedagang pasar. Akibat sepinya pembeli, para pedagang mengaku terpaksa memotong pasokan stok harian mereka agar tidak mengalami kerugian akibat daging yang tidak segar atau membusuk.
Menurut pengakuan sejumlah agen ayam potong di Pasar Pendopo, volume penjualan mereka menurun drastis hingga setengah dari kapasitas normal. Jika biasanya mereka mampu memasarkan hingga 800 kilogram daging ayam per hari, kini menjual 400 kilogram saja sudah terasa sangat sulit.
Masyarakat Pertanyakan Fungsi Pengawasan Pemerintah
Kondisi meresahkan yang telah berlangsung selama beberapa waktu terakhir ini memicu pertanyaan besar dari masyarakat mengenai peran dinas terkait. Warga mendesak Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten PALI serta Satgas Pangan untuk segera turun ke lapangan melakukan inspeksi mendadak (sidak).
Hingga saat ini, belum ada intervensi pasar yang signifikan seperti menggelar Operasi Pasar Murah khusus komoditas daging untuk meredam fluktuasi harga tersebut. Masyarakat berharap pemerintah daerah segera menelusuri rantai distribusi guna mengetahui apakah lonjakan ini disebabkan oleh naiknya harga pakan dari peternak, keterbatasan pasokan doc, atau adanya permainan margin di tingkat spekulan.
Jika lonjakan harga ini terus dibiarkan tanpa adanya solusi konkret dan nyata, dikhawatirkan inflasi daerah akan semakin meningkat dan daya beli masyarakat PALI akan terus melemah.(Moy)

