Top 5 This Week

Related Posts

“STOP GEOLISTRIK! Warga Sumberagung Melawan, Tanah Petani Bukan Tumbal Investasi”

INVESTIGASI.IN | Banyuwangi – Gelombang penolakan terhadap aktivitas geolistrik di wilayah Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, semakin memanas. Warga bersama tokoh masyarakat mulai angkat suara dan menunjukkan perlawanan terbuka terhadap aktivitas yang dianggap mengancam ruang hidup petani dan masa depan lingkungan desa.


Di tengah hamparan lahan pertanian, spanduk besar bertuliskan “STOP GEOLISTRIK” berdiri mencolok sebagai simbol kemarahan dan kegelisahan masyarakat. Bagi warga, tanah pertanian bukan sekadar lahan kosong yang bisa dimasuki seenaknya, melainkan sumber kehidupan yang diwariskan turun-temurun untuk anak cucu mereka.


Tokoh masyarakat Desa Sumberagung, P. Suratin, saat ditemui oleh Bapak Pramono dari tim investigasi dan media, menegaskan bahwa masyarakat mulai resah dengan adanya aktivitas yang masuk ke wilayah pertanian tanpa keterbukaan yang jelas kepada warga.


“Kami ini rakyat kecil. Hidup kami dari sawah dan ladang. Jangan sampai atas nama proyek dan investasi, petani dijadikan korban,” tegas P. Suratin.


Menurutnya, masyarakat bukan anti pembangunan. Namun warga menolak apabila aktivitas yang berpotensi berdampak terhadap lingkungan dan lahan pertanian dilakukan tanpa komunikasi terbuka, tanpa persetujuan masyarakat, dan tanpa memikirkan dampak jangka panjang terhadap kehidupan warga desa.


Warga menilai, selama ini petani selalu menjadi pihak yang paling lemah ketika kepentingan besar mulai masuk desa. Mereka hanya dijadikan penonton di tanah sendiri, sementara keputusan penting diduga sudah ditentukan tanpa melibatkan suara rakyat kecil.


“Kami ingin dihargai sebagai pemilik lahan dan masyarakat yang tinggal di sini. Jangan sampai rakyat hanya dipakai namanya, tapi hak dan suaranya diabaikan,” lanjutnya.


Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Masyarakat takut aktivitas geolistrik menjadi pintu masuk eksploitasi yang dapat mengancam sumber air, merusak struktur lahan pertanian, dan menghancurkan keseimbangan lingkungan yang selama ini menjadi penopang hidup petani.


Ironisnya, di saat petani sedang berjuang menghadapi mahalnya pupuk, cuaca yang tidak menentu, dan hasil panen yang terus menurun, kini mereka justru dibayangi ancaman kehilangan ruang hidup akibat kepentingan investasi yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat kecil.


Spanduk penolakan yang dipasang warga juga memuat larangan keras terhadap pihak luar yang memasuki lahan pertanian tanpa izin. Sikap itu menjadi bukti bahwa masyarakat mulai bersatu menjaga wilayah mereka dari aktivitas yang dinilai merugikan petani.


Warga meminta pemerintah daerah dan pihak terkait tidak tutup mata terhadap keresahan masyarakat bawah. Mereka mendesak adanya keterbukaan, dialog langsung dengan warga, serta penghentian sementara aktivitas yang memicu konflik di tengah masyarakat.


“Tanah ini bukan warisan untuk dijual, tapi titipan untuk anak cucu kami. Kalau tanah rusak, petani mau hidup dari apa?” ujar salah satu warga dengan nada kecewa.
Kini suara perlawanan dari Desa Sumberagung mulai menggema luas.

Warga menegaskan akan terus berdiri di garis depan menjaga lahan pertanian mereka dari segala bentuk aktivitas yang dianggap mengancam masa depan desa.
Bagi masyarakat Pesanggaran, pembangunan tidak boleh berjalan dengan mengorbankan rakyat kecil. Karena ketika tanah petani mulai terancam, maka yang dipertaruhkan bukan hanya sawah dan ladang, tetapi juga kehidupan, martabat, dan masa depan generasi berikutnya.(tim)

Popular Articles