Selasa, Maret 10, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Wali Murid Soroti Dugaan Keracunan dan Nilai Anggaran MBG: “Jangan Anak Kami Jadi Percobaan”

Mediainvestigasi.in

 

Banyuwangi,5-3-2026– Dugaan keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai sorotan. Seorang wali murid mengungkapkan kronologi awal hingga hasil mediasi yang dinilai belum memuaskan.

Menurutnya, kejadian bermula saat pihak sekolah menerima distribusi makanan dari penyedia berbeda dari biasanya. Sebelumnya, distribusi untuk Wetan 1 berasal dari MBG Kajar Harjo. Namun kali ini, makanan dikirim dari pihak lain.

“Biasanya sebelum diberikan ke siswa, guru-guru mencicipi dulu untuk memastikan aman. Kemarin setelah dites oleh salah satu guru dan satu murid non-muslim, sekitar setengah jam kemudian muncul keluhan mual. Guru-guru akhirnya dibawa untuk pemeriksaan. Maka diduga ada keracunan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa para wali murid bukan menolak program MBG yang merupakan program Presiden. Justru mereka mendukung penuh, namun ingin memastikan pelaksanaannya sesuai tujuan awal.

“Kami mendukung program Presiden. Justru karena kami mendukung, maka kami awasi. Supaya anak-anak ini benar-benar mendapat gizi cukup, bukan malah anggarannya dikurangi atau ‘dicetot-cetot’,” tegas Ivan

Wali murid juga menyoroti ketidaksesuaian harga makanan yang tercantum dengan harga pasar. Ia mengaku sempat membandingkan langsung dengan menu di sekolah lain.

“Saya lihat di MI Nurul Fatah, makanannya jauh dari nilai Rp10.000. Roti yang harga ecerannya Rp1.000 ditulis Rp2.500. Salak pengganti pisang ditulis Rp2.000, padahal paling mahal Rp500. Ini mark-up terlalu besar,” katanya.

Ia menyebut bahwa informasi yang diterima orang tua, nilai makanan untuk anak berkisar Rp8.000 hingga Rp10.000, tergantung porsi. Namun yang diterima dinilai tidak sebanding.

“Kami tahunya yang sampai ke anak itu senilai Rp10.000. Kalau ternyata yang kami nilai hanya Rp4.000 atau Rp5.000, ini tidak bisa dibiarkan. Jangan korupsi lagi,” ujarnya.

Terkait mediasi yang telah dilakukan, ia menilai belum ada solusi konkret.

“Tadi di dalam terlalu banyak pembelaan. Tidak ada syarat atau langkah jelas ke depan. Kalau alasannya tenaga belum berpengalaman, ya jangan buka dulu. Tutup saja kalau memang belum siap. Jangan anak kami dibuat percobaan,” katanya dengan nada tegas.

Menurutnya, anak-anak memang terlihat senang menerima makanan, namun itu bukan tolok ukur keberhasilan program.

“Anak TK dikasih apa saja senang. Mereka tidak tahu harganya berapa. Orang tua yang tahu. Kami yang menilai,” tambahnya.

Sebagai langkah ke depan, para wali murid berkomitmen akan terus mengawasi pelaksanaan MBG.

“Kalau masih seperti ini, ya kami gerakkan masyarakat. Bisa saja kami tutup yang begini. Biar jadi perhatian nasional,” pungkasnya.

Popular Articles